Sifat Malu “Yang Mulia”
Mei 21, 2007 pada 1:18 pm (Abad Shohihah, Adab, Adab & Akhlaq, Adab Dan Akhlaq, Adab Mulia, Adab Shohihah, Adat, Adat Istiadat, Akhlaq, Akhlaq Mulia, Akhlaq Muslim, Akhlaq Shohihah, Artikel, Iman, Islam, Islamic, Kepribadian, Mental, Muamalah, Mukmin, Muslim, Peradaban, Peradaban Islam, Perilaku, Sholeh, Sifat, Situs Islam, Tauhid, religion, religius)
MediaMuslim.Info - Manusia akan hidup dalam kebaikan selama rasa malu masih terpelihara, sebagaimana dahan akan tetap segar selama masih terbungkus kulitnya. Secara kodrat, kaum wanita sangat beruntung, dianugrahi fitrah penciptaannya dengan rasa malu yang lebih dominan dibandingkan dengan pria. Namun, ironisnya, kini banyak sekali wanita yang justru merasa malu mempunyai sifat malu dan berusaha mencampakkan jauh-jauh sifat mulia dan terpuji itu. Sehingga, terlalu banyak kita jumpai saat ini kaum wanita yang lebih tidak tahu malu daripada laki-laki.
Malu adalah Iman
Lunturnya sifat malu dalam masyarakat merupakan salah satu parameter degradasi iman. Sebab, rasa malu akan segera menyingkir dengan sendirinya tatkala iman sudah terkikis. Sebagaimana sabda Rasululloh Shallallaahu alaihi wa Sallam, yang artinya: “Malu dan iman saling berpasangan. Bila salah satunya hilang, maka yang lain turut hilang.” (HR: Hakim dalam kitab Al-Mustadrak, ia berkata hadits ini shahih dengan syarat Bukhari Muslim dan Dzahabi menyepakatinya)
Rasululloh Shallallaahu alaihi wa Sallam pernah melewati seorang laki-laki Anshar yang mencela sifat malu saudaranya. Maka Rasululloh Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, yang artinya: “Tinggalkan dia. Sesungguhnya malu itu sebagian dari iman.”
Dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasululloh Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, yang artinya: “Iman itu ada tujuh puluh bagian. Yang paling tinggi adalah kalimat ‘la ilaha illallah’ dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri di jalan. Dan malu adalah bagian dari iman.” (HR: Bukhari)
Malu, Kunci Segala Kebaikan
Malu merupakan penghalang seseorang untuk melakukan perbuatan dosa. Hasrat seseorang untuk berbuat dosa berbanding terbalik dengan rasa malu yang dimilikinya.
Abu Hatim berkata: “Bila manusia terbiasa malu, maka pada dirinya terdapat faktor-faktor yang mendorong pada kebaikan. Sebaliknya orang yang tidak tahu malu dan terbiasa berbicara kotor maka pada dirinya tidak akan ada faktor-faktor yang mendorong pada kebaikan, yang ada hanya kejahatan.”
Muhammad Ibnu Abdullah Al-Baghdadi melantunkan syair sebagai berikut:
“Bila cahaya wajah berkurang,
maka berkurang pula rasa malunya
Tidak ada keindahan pada wajah,
Bila cahayanya berkurang
Rasa malumu peliharalah selalu,
Sesungguhnya sesuatu yang menandakan kemuliaan seseorang,
Adalah rasa malunya.”
Bukannya Tidak Pede
Mempunyai sifat malu bukan berarti menjadikan kita rendah diri, minder, atau nggak pede. Apalagi gara-gara ketidakpedean itu kita jadi urung melakukan kebaikan, amal shalih, dan menuntut ilmu. Jika hal itu terjadi pada diri kita, cobalah kita berintrospeksi, apakah sebenarnya malu yang kita rasakan itu karena Alloh Subhanahu wa Ta’ala atau karena manusia. Misalnya saja kita malu memakai jilbab yang syar’I, malu menunjukkan jati diri sebagai seorang Pria Muslim atau malu pergi ke majelis ta’lim. Apakah malu yang demikian ini karena Alloh Subhanahu wa Ta’ala atau hanya rasa malu, ketakutan dan kecemasan kita kepada selain-Nya? Padahal, malu kepada Alloh-lah yang seharusnya kita utamakan. Bukankah Alloh-lah yang paling berhak kita malui?
Al-Qurthubi rahimahulloh berkata: “Al-Musthafa (Nabi Muhammad) Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah orang yang pemalu. Beliau menyuruh (umatnya) agar mempunyai sifat malu. Namun satu hal yang perlu diketahui bahwa malu tidak dapat merintangi kebenaran yang beliau katakan atau menghalangi urusan agama yang beliau jadikan pegangan sesuai dengan firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya: “Dan Alloh tidak malu (menerangkan) yang benar” (QS: Al-Ahzab: 53)”.
Sifat malu memang adakalanya harus disingkirkan, yaitu saat kita menuntut ilmu. Dalam hal ini, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah berkata: “Orang yang tidak tahu tidak selayaknya malu bertanya, dan orang yang ditanya tidak perlu malu bila tidak mengetahuinya untuk mengatakan: Saya tidak tahu”.
Imam Bukhari rahimahulloh berkata: “Orang yang pemalu dan sombong tidak akan bisa mempelajari ilmu.” Hal ini juga dikuatkan oleh hadits yang diriwayatkan Aisyah radhiyallahu ‘anha. Ia berkata, “Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar. Rasa malu pada diri mereka tidak menghalangi mereka mendalami ilmu agama.” (Fathul Bari 1/229)
Harus Ditumbuhkan
Pengunjung Media Muslim INFO yang tercinta… sifat yang mulia ini selayaknyalah kita pupuk dengan baik dan kita jaga agar tidak musnah dari diri kita. Berbahagialah kita, jika kita terlahir sebagai sebagai seorang yang pemalu, yang berati kita telah mempunyai sifat dasar yang baik. Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda kepada Asyaj dari bani Anshar, yang artinya: “Pada dirimu ada dua sifat yang Alloh Subhanahu wa Ta’ala sukai.” Maka ia bertanya, “Apakah itu, wahai Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam?” Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab; “Sabar dan malu”. Asyaj bertanya lagi, “Apakah kedua sifat itu sudah ada sejak dulu atau baru ada?”. Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Sejak dulu.” Asyaj berkata, “Puji syukur kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberiku dua sifat yang Allah sukai “ (HR: Ibnu Abi ‘Ashim).
Jika memang kita rasakan sifat itu kurang pada diri kita, maka tidak perlu khawatir karena sifat itu dapat ditumbuhkan. Dengan meningkatkan iman, ma’rifatulloh, dan pendekatan diri kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala sehingga dalam diri kita timbul kesadaran bahwa Alloh Subhanahu wa Ta’ala senantiasa mengawasi, mengetahui segala sesuatu yang kita kerjakan dan yang kita simpan dalam hati maka akan tumbuhlah malu imani yang mampu mencegah seseorang berdosa karena takut pada Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Wallahu a’lam.
(Sumber Rujukan: Al-Qur’an, Fathul Bari, Hadits Bukhori dan Muslim dan berbagai sumber lainnya)

alfin berkata,
Mei 21, 2007 pada 9:19 pm
Assallamualaikum?
Bagaimana solusnya menghilangkan perasaan malu pada diri kita?
Apakah setiap orang itu pasti mempunyai perasaan malu?
Makasih.
wassallamualaikum……
Muslim « 4w3z berkata,
Mei 23, 2007 pada 3:58 pm
[...] Sifat Malu “Yang Mulia” — 1 comments [...]
fi3 berkata,
Mei 29, 2007 pada 11:14 am
assalamualaikum…
gimana sih caranya biar kita tuh nggak malu-maluin??? hehe… trus,kenapa sih terkadang muslim itu malu menunjukkan identitas dirinya?
jazakumullah…
wassalamualaikum…
Nur Kholis berkata,
Mei 29, 2007 pada 3:06 pm
Malu merupakan bagian dari ajaran Islam, yakni bagian dari sunnah Rasul saw. “al-haya’u minal iman” Namun demikian malu yang disunahkan adalah sifat malu yang tidak berlebihan, malu yang memenuhi kadar sifat yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw. Bukan malu yang justru bikin memalukan. Dalam istilah jawa sifat isin, niku angsal (itu boleh), ning aja ngisin-ngisini, (namun jangan memalukan).
AJ berkata,
Juli 9, 2007 pada 10:48 am
jadikan lah perasan malu itu, sebagai pakaian di badan kita tanpanya sudah pasti kita tidak tahu malu…sesungguhnya Allah lebih mengetahui..
Eri berkata,
September 7, 2007 pada 4:06 pm
malu adalah tiket menuju surga
hajar berkata,
Nopember 6, 2007 pada 3:03 pm
subahanallah…
rekha berkata,
Nopember 27, 2007 pada 5:42 pm
malu yang harus kita tonjolkan itu yang bagaimana ya?saya sangat tertarik dengan ini, karena saya takut rasa malu saya terhadap kurang,,,saya mohon penjelasan mengenai contoh2 rasa malu yang wajib atau sunnah dalam kehidupan sehari2 diluar rasa malu kita untuk memakai jilbab yang sar’i karena insya allah itu sudah paham,,,tapi rasa malu yang dalam kegiatan sehari2, dalam dunia kerja yang butuh interaksi dengan banyak kalangan,,,
afwan kalo boleh juga tolong di sent ke email ku or di beritahu kalo sudah di muat di url ini,,,,jazakilla
rIsMa sUgiaRto berkata,
Desember 26, 2007 pada 12:37 pm
kenapa c manusia harus mempunyai rasa malu
aQ mau minTa saRan nih??aPa yanG haRus kita laKuin kLo kita punYa teMen yAng Gak poeNya raSa maLu??kiRim jaWabannya ke email w yah
aQ tuNggu loWz?|??????????????
ahzarafie berkata,
Desember 26, 2007 pada 6:52 pm
assalamualaikum, saya ingin sekali menjadi seorang muslim yang sebenarnya, seorang yang selalu menjalankan kehidupannya dengan tuntunan Al Quran dan Al Hadist, saya sebelumnya adalah seorang yang menjalan kan kehidupan saya sangat jauh dari semua tuntunan agama, akhir2 ini saya belajar mendalami tentang islam. dan saya sangat ingin saya hidup sesuai dengan tuntunan islam. apabila saudara2ku muslim yang lain yang ingin meyampaikan sarannya silakan saja lgsg tulis ke email saya : joesa_maulana@yahoo.com, saya sangat menunggu saran saudara sebagai saran belajar saya, dan juga ukhuwah kita,..insya Allah
ALFI berkata,
Februari 18, 2008 pada 3:43 pm
asssalamu`alaikum
saya selalu merasa malu jika berbicara dengan lawan jenis. apakah ini normal ????
Saya ingin selalu merasa malu pada orang lain secara wajar gimamna caranya ??
Anisa berkata,
April 26, 2008 pada 2:49 pm
Malu???
Seperti apa yang boleh?
Malu apakah yang tidak boleh??
Selama ini saya kira, malu adalah bila kita melakukan perbuatan tidak benar seperti mencuri, tidak jujur, nyontek ketika ulangan, berbuat curang dalam persaingan, korupsi waktu saat bekerja, ……dll.
Sedangkan untuk hubungan sesama manusia, baik berbicara dengan lawan jenis, berdiskusi, meminta promosi jabatan, menunjukkan ambisi dalam pekerjaan, malu harus dibuang jauh-jauh.
Apakah pemahaman saya salah?Mohon dibalas….
deni berkata,
Mei 8, 2008 pada 9:14 am
byk2 baca aja, biar bs tau mana malu yang baik n mana malu yg malu2in. realita yg ada skrg, smakin modern zaman, smakin majunya teknologi, semakin luntur rasa malu. orang yang punya rasa malu di anggap kuno, di tertawakan, sdgkn , orang yang rasa malunya dah luntur malah (or dah g punya malu) di anggap kuereeen…. kiamat sudah dekat…. ingat…ingat….TING ….!!!
musyafir berkata,
Juli 2, 2008 pada 8:59 am
malu bertanya sesat di jalan,dijalan 4JJI,di jalan ilmu,di jalan kebaikan and pastinya nyasar kaleeeee”
malu adalah emas:mempunyai harga diri yang sangat besar sekali ketimbang malu-maluin lebih hina tanpa harga diri sedikitpun.
malu adalah penyelamat dari kemaksiatan,kenistaan and keterlaluan.