Sifat Malu “Yang Mulia”

MediaMuslim.Info - Manusia akan hidup dalam kebaikan selama rasa malu masih terpelihara, sebagaimana dahan akan tetap segar selama masih terbungkus kulitnya. Secara kodrat, kaum wanita sangat beruntung, dianugrahi fitrah penciptaannya  dengan rasa malu yang lebih dominan dibandingkan dengan pria. Namun, ironisnya, kini banyak sekali wanita yang justru merasa malu mempunyai sifat malu dan berusaha mencampakkan jauh-jauh sifat mulia dan terpuji itu. Sehingga, terlalu banyak kita jumpai saat ini kaum wanita yang lebih tidak tahu malu daripada laki-laki.

Malu adalah Iman
Lunturnya sifat malu dalam masyarakat merupakan salah satu parameter degradasi iman. Sebab, rasa malu akan segera menyingkir dengan sendirinya tatkala iman sudah terkikis. Sebagaimana sabda Rasululloh Shallallaahu alaihi wa Sallam, yang artinya: “Malu dan iman saling berpasangan. Bila salah satunya hilang, maka yang lain turut hilang.” (HR: Hakim dalam kitab Al-Mustadrak, ia berkata hadits ini shahih dengan syarat Bukhari Muslim dan Dzahabi menyepakatinya)

Rasululloh Shallallaahu alaihi wa Sallam pernah melewati seorang laki-laki Anshar yang mencela sifat malu saudaranya. Maka Rasululloh Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, yang artinya: “Tinggalkan dia. Sesungguhnya malu itu sebagian dari iman.”

Dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasululloh Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, yang artinya: “Iman itu ada tujuh puluh bagian. Yang paling tinggi adalah kalimat ‘la ilaha illallah’ dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri di jalan. Dan malu adalah bagian dari iman.” (HR: Bukhari)

Malu, Kunci Segala Kebaikan
Malu merupakan penghalang seseorang untuk melakukan perbuatan dosa. Hasrat seseorang untuk berbuat dosa berbanding terbalik dengan rasa malu yang dimilikinya.

Abu Hatim berkata: “Bila manusia terbiasa malu, maka pada dirinya terdapat faktor-faktor yang mendorong pada kebaikan. Sebaliknya orang yang tidak tahu malu dan terbiasa berbicara kotor maka pada dirinya tidak akan ada faktor-faktor yang mendorong pada kebaikan, yang ada hanya kejahatan.”

Muhammad Ibnu Abdullah Al-Baghdadi melantunkan syair sebagai berikut:
“Bila cahaya wajah berkurang,
maka berkurang pula rasa malunya
Tidak ada keindahan pada wajah,
Bila cahayanya berkurang
Rasa malumu peliharalah selalu,
Sesungguhnya sesuatu yang menandakan kemuliaan seseorang,
Adalah rasa malunya.”

Bukannya Tidak Pede
Mempunyai sifat malu bukan berarti menjadikan kita rendah diri, minder, atau nggak pede. Apalagi gara-gara ketidakpedean itu kita jadi urung melakukan kebaikan, amal shalih, dan menuntut ilmu. Jika hal itu terjadi pada diri kita, cobalah kita berintrospeksi, apakah sebenarnya malu yang kita rasakan itu karena Alloh Subhanahu wa Ta’ala atau karena manusia. Misalnya saja kita malu memakai jilbab yang syar’I, malu menunjukkan jati diri sebagai seorang Pria Muslim atau malu pergi ke majelis ta’lim. Apakah malu yang demikian ini karena Alloh Subhanahu wa Ta’ala atau hanya rasa malu, ketakutan dan kecemasan kita kepada selain-Nya? Padahal, malu kepada Alloh-lah yang seharusnya kita utamakan. Bukankah Alloh-lah yang paling berhak kita malui?

Al-Qurthubi rahimahulloh berkata: “Al-Musthafa (Nabi Muhammad) Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah orang yang pemalu. Beliau menyuruh (umatnya) agar mempunyai sifat malu. Namun satu hal yang perlu diketahui bahwa malu tidak dapat merintangi kebenaran yang beliau katakan atau menghalangi urusan agama yang beliau jadikan pegangan sesuai dengan firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya: “Dan Alloh tidak malu (menerangkan) yang benar” (QS: Al-Ahzab: 53)”.

Sifat malu memang adakalanya harus disingkirkan, yaitu saat kita menuntut ilmu. Dalam hal ini, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah berkata: “Orang yang tidak tahu tidak selayaknya malu bertanya, dan orang yang ditanya tidak perlu malu bila tidak mengetahuinya untuk mengatakan: Saya tidak tahu”.

Imam Bukhari rahimahulloh berkata: “Orang yang pemalu dan sombong tidak akan bisa mempelajari ilmu.” Hal ini juga dikuatkan oleh hadits yang diriwayatkan Aisyah radhiyallahu ‘anha. Ia berkata, “Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar. Rasa malu pada diri mereka tidak menghalangi mereka mendalami ilmu agama.” (Fathul Bari 1/229)

Harus Ditumbuhkan
Pengunjung Media Muslim INFO yang tercinta… sifat yang mulia ini selayaknyalah kita pupuk dengan baik dan kita jaga agar tidak musnah dari diri kita. Berbahagialah kita, jika kita terlahir sebagai sebagai seorang yang pemalu, yang berati kita telah mempunyai sifat dasar yang baik. Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda kepada Asyaj dari bani Anshar, yang artinya: “Pada dirimu ada dua sifat yang Alloh Subhanahu wa Ta’ala sukai.” Maka ia bertanya, “Apakah itu, wahai Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam?” Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab; “Sabar dan malu”. Asyaj bertanya lagi, “Apakah kedua sifat itu sudah ada sejak dulu atau baru ada?”. Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Sejak dulu.” Asyaj berkata, “Puji syukur kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberiku dua sifat yang Allah sukai “ (HR: Ibnu Abi ‘Ashim).

Jika memang kita rasakan sifat itu kurang pada diri kita, maka tidak perlu khawatir karena sifat itu dapat ditumbuhkan. Dengan meningkatkan iman, ma’rifatulloh, dan pendekatan diri kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala sehingga dalam diri kita timbul kesadaran bahwa Alloh Subhanahu wa Ta’ala senantiasa mengawasi, mengetahui segala sesuatu yang kita kerjakan dan yang kita simpan dalam hati maka akan tumbuhlah malu imani yang mampu mencegah seseorang berdosa karena takut pada Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Wallahu a’lam.

(Sumber Rujukan: Al-Qur’an, Fathul Bari, Hadits Bukhori dan Muslim dan berbagai sumber lainnya)

38 Komentar

  1. alfin said,

    Mei 21, 2007 pada 9:19 pm

    Assallamualaikum?
    Bagaimana solusnya menghilangkan perasaan malu pada diri kita?
    Apakah setiap orang itu pasti mempunyai perasaan malu?
    Makasih.
    wassallamualaikum……

  2. Mei 23, 2007 pada 3:58 pm

    [...] Sifat Malu “Yang Mulia” — 1 comments [...]

  3. fi3 said,

    Mei 29, 2007 pada 11:14 am

    assalamualaikum…
    gimana sih caranya biar kita tuh nggak malu-maluin??? hehe… trus,kenapa sih terkadang muslim itu malu menunjukkan identitas dirinya?
    jazakumullah…
    wassalamualaikum…

  4. Nur Kholis said,

    Mei 29, 2007 pada 3:06 pm

    Malu merupakan bagian dari ajaran Islam, yakni bagian dari sunnah Rasul saw. “al-haya’u minal iman” Namun demikian malu yang disunahkan adalah sifat malu yang tidak berlebihan, malu yang memenuhi kadar sifat yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw. Bukan malu yang justru bikin memalukan. Dalam istilah jawa sifat isin, niku angsal (itu boleh), ning aja ngisin-ngisini, (namun jangan memalukan).

  5. AJ said,

    Juli 9, 2007 pada 10:48 am

    jadikan lah perasan malu itu, sebagai pakaian di badan kita tanpanya sudah pasti kita tidak tahu malu…sesungguhnya Allah lebih mengetahui..

  6. Eri said,

    September 7, 2007 pada 4:06 pm

    malu adalah tiket menuju surga

  7. hajar said,

    November 6, 2007 pada 3:03 pm

    subahanallah…

  8. rekha said,

    November 27, 2007 pada 5:42 pm

    malu yang harus kita tonjolkan itu yang bagaimana ya?saya sangat tertarik dengan ini, karena saya takut rasa malu saya terhadap kurang,,,saya mohon penjelasan mengenai contoh2 rasa malu yang wajib atau sunnah dalam kehidupan sehari2 diluar rasa malu kita untuk memakai jilbab yang sar’i karena insya allah itu sudah paham,,,tapi rasa malu yang dalam kegiatan sehari2, dalam dunia kerja yang butuh interaksi dengan banyak kalangan,,,
    afwan kalo boleh juga tolong di sent ke email ku or di beritahu kalo sudah di muat di url ini,,,,jazakilla

  9. rIsMa sUgiaRto said,

    Desember 26, 2007 pada 12:37 pm

    kenapa c manusia harus mempunyai rasa malu
    aQ mau minTa saRan nih??aPa yanG haRus kita laKuin kLo kita punYa teMen yAng Gak poeNya raSa maLu??kiRim jaWabannya ke email w yah
    aQ tuNggu loWz?|??????????????

  10. ahzarafie said,

    Desember 26, 2007 pada 6:52 pm

    assalamualaikum, saya ingin sekali menjadi seorang muslim yang sebenarnya, seorang yang selalu menjalankan kehidupannya dengan tuntunan Al Quran dan Al Hadist, saya sebelumnya adalah seorang yang menjalan kan kehidupan saya sangat jauh dari semua tuntunan agama, akhir2 ini saya belajar mendalami tentang islam. dan saya sangat ingin saya hidup sesuai dengan tuntunan islam. apabila saudara2ku muslim yang lain yang ingin meyampaikan sarannya silakan saja lgsg tulis ke email saya : joesa_maulana@yahoo.com, saya sangat menunggu saran saudara sebagai saran belajar saya, dan juga ukhuwah kita,..insya Allah

  11. ALFI said,

    Februari 18, 2008 pada 3:43 pm

    asssalamu`alaikum
    saya selalu merasa malu jika berbicara dengan lawan jenis. apakah ini normal ????
    Saya ingin selalu merasa malu pada orang lain secara wajar gimamna caranya ??

  12. Anisa said,

    April 26, 2008 pada 2:49 pm

    Malu???
    Seperti apa yang boleh?
    Malu apakah yang tidak boleh??
    Selama ini saya kira, malu adalah bila kita melakukan perbuatan tidak benar seperti mencuri, tidak jujur, nyontek ketika ulangan, berbuat curang dalam persaingan, korupsi waktu saat bekerja, ……dll.

    Sedangkan untuk hubungan sesama manusia, baik berbicara dengan lawan jenis, berdiskusi, meminta promosi jabatan, menunjukkan ambisi dalam pekerjaan, malu harus dibuang jauh-jauh.

    Apakah pemahaman saya salah?Mohon dibalas….

  13. deni said,

    Mei 8, 2008 pada 9:14 am

    byk2 baca aja, biar bs tau mana malu yang baik n mana malu yg malu2in. realita yg ada skrg, smakin modern zaman, smakin majunya teknologi, semakin luntur rasa malu. orang yang punya rasa malu di anggap kuno, di tertawakan, sdgkn , orang yang rasa malunya dah luntur malah (or dah g punya malu) di anggap kuereeen…. kiamat sudah dekat…. ingat…ingat….TING ….!!!

  14. musyafir said,

    Juli 2, 2008 pada 8:59 am

    malu bertanya sesat di jalan,dijalan 4JJI,di jalan ilmu,di jalan kebaikan and pastinya nyasar kaleeeee”
    malu adalah emas:mempunyai harga diri yang sangat besar sekali ketimbang malu-maluin lebih hina tanpa harga diri sedikitpun.
    malu adalah penyelamat dari kemaksiatan,kenistaan and keterlaluan.

  15. September 9, 2008 pada 2:20 pm

    [...] Sifat Malu “Yang Mulia” [...]

  16. lala said,

    November 26, 2008 pada 12:52 pm

    assalamualaikum
    gimana caranya jadi muslum yang bener-bener muslim?

    jazakumulloh….

    wassalamualaikum

  17. ilswar alsi said,

    Desember 21, 2008 pada 12:17 pm

    assalamu’alaikum
    akh bagaimana kita berda’wah lewat study club

  18. imam f said,

    Desember 23, 2008 pada 5:29 pm

    assalamualaikum
    hampir semua perasaan malu itu selalu menyuruh kepada kebaikan.
    seperti sahabat nabi yaitu usman bin affan beliau memiliki sifat yang
    sangat pemalu yang dimana menjadikan beliau tidak berlaku sombong
    meskipun beliau menjadi khalifah.

  19. Aline,,ooo said,

    Desember 27, 2008 pada 2:33 pm

    assalamualaikum

    afwan ustadzzz,,,,,,,,
    ada gak ya obat malesssss……yang bisa ngobatin rasa2 malezzz tu,,,,,
    dan obat lemahnya iman tu,,,,,,,,,,,,,,,,,,,??????????????????

    and sifat malu tu kan baik ustadzz tapi kalau terlalu malu kan nanti tidak bagus karna tidak berani mengajukan pendapat jadi malu yang bagaimana malu yang paling bagus dan mulia,,, ustadzzzz.,,,,,,,,,>>>>>>>>>>>>>>>>?????

  20. TEJA said,

    Februari 11, 2009 pada 12:12 pm

    sifat malu memang harus di tubuhkan karena jika seseorang tidak mempunyai sifatmalu maka ia akan berbuat sesuka nya, bahkan melebihi binatang yang lebih rendah dari manusia itu sendiri,,,,

  21. dhini said,

    Maret 31, 2009 pada 4:38 pm

    aslm…ust…bisa tolong djelasin malu yg mulia it kpn dan sperti apa…???
    jzkllh jwbnny ust,,

  22. Juni 10, 2009 pada 1:19 pm

    Assalamualaikum
    tolong jawab yach!
    aQ nech kata org pemalu, jadi, aQ mau nanya, gmn caranya biar aQ gk malu?? truz malu yg baik itu gmn??
    Terima Kasih atas jwbnnya.
    Wassalamualaikum

  23. muslim said,

    September 26, 2009 pada 6:06 am

    malu aq

  24. muslim said,

    September 26, 2009 pada 6:16 am

    aq malu pada diriku sendiri dan sangat malu… memalukan!
    kelakuankusangat bejat..memalukan!
    mau lari kemana?
    memang ada tempat lari..untuk melarikan diri..apa g malu?
    lari kemanapun tetap malu..help me please
    sempit sekali dunia ini..aq tidak bisa melarikan diri.
    thanks!

    • vina said,

      Desember 20, 2009 pada 10:11 am

      sebagai manusia memang gak luput dari kesalahan, aq jg pernah lakuin hal yg bodoh yg buat aq malu bgt sm Allah, Subhanallah…krn hidayah-Nya itu buat hati aq isa menangis menyesali smuana, aq gak perlu lari n emg gak isa lari dr masa laluku it, aq hnya ingin bertaubat krn Allah…, aq yakin Allah akn ampuni dosa aq yg bner2 aq sesali itu n gak ingin ulangi lg, Allah maha pengampun, Allah maha penyayang, Allah maha pemurah, Allah maha bijaksana dan Allah maha segalana……..

  25. muslim said,

    September 26, 2009 pada 6:40 am

    pasangan spektakuler sepanjang abad.. bak romeo & yuliet kisah cinta abadi
    sangat mesra dan mengharukan hati.. luluh lantak karena cinta sejati ..malu dan iman sangat indah sekali..kisah cinta sejati ….

  26. Iswady said,

    Januari 13, 2010 pada 6:36 pm

    inilah sifat yang sudah semakin menipis saat ini. Orang2 kadang tidak malu menunjukkan perbuatan dosanya.

  27. sri r said,

    Februari 12, 2010 pada 11:13 am

    rasanya rs malu itu hilang dr hdp q ,karna langkah2 kt q yang justru malah menjadikan q lemah
    adakah jalan u q kembali
    Ya Allah Ampuni Aq….

  28. Juedz Naratas Aristone said,

    Maret 9, 2010 pada 10:33 pm

    Rasa malu yang sesuai ajaran islam adalah salah satu derajat mulia manusia…

  29. miyah said,

    Maret 23, 2010 pada 10:33 pm

    adakah sipat malu bagi wanita aja? benarkan malu bukan arti takut?

  30. Juni 21, 2010 pada 10:31 pm

    malu tidak akan menjadikan kita lemah, asalkan malu kita yang utama ditujukan kepada Alloh… Jika demikian, kita tidak perlu malu di hadapan manusia, sebab kita telah menjaga diri kita dari keburukan sebab malu kepada Alloh…

    artikelnya bagus… like this

  31. Firman said,

    September 9, 2010 pada 2:55 pm

    Ya Alloh..ya tuhanku bersihkan hati dan jiwaku..ampuni aku

  32. Achmed said,

    Oktober 28, 2010 pada 2:33 pm

    Subhanallah, , ,

  33. jay said,

    September 21, 2011 pada 11:22 am

    saya malu sama apa yg saya perbuat
    hati saya sadar bahwa saya telah melakukan hal yg bodoh
    tapi kenapa ketika melakukan hal bodoh org banyak yang nyaman dengan saya… dan apa niat saya salah ingin membuat tersenyum teman2 dengan melakukan hal yang bodoh ..dan membodohi ht saya.
    karna ketenangan yg saya dapat itu dari senyum mereka semua..
    sekarang
    saya malu dan saya ingin berubah
    g peduli mereka jauh,,, saya hanya ingin dekat dgn Allah
    dan mereka jadi minder sama saya setelah saya berubah
    sesuai dengan hati saya

    apa yang saya lakukan ini tepat ?
    kalo ada saran yang lebih baik lagi mohon kasih tau saya
    terimakasih…

  34. Kisah Islam said,

    Oktober 28, 2011 pada 7:57 am

    saat ini rasa malu sudah menjadi bagian yg hampir hilang di negeri ini, apa solusinya?

  35. Karir Gue said,

    Oktober 28, 2011 pada 7:58 am

    kini kita sering disuguhi berita tentang para koruptor yg tidak tahu malu di negeri ini, kemana hukum negeri ini

  36. April 21, 2012 pada 1:17 pm

    Apakah benar malu itu sebagian dari iman apakah ada dalilnya tolong beritahu dalilnya

  37. Mei 17, 2012 pada 12:35 am

    semoga kita masih diberikan rasa malu jika kita tidak melakukan kebaikan,,,,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: